Monday, May 20, 2013

Impor, Ketahanan Pangan, dan Tali Tambang.



 “Population increases in a geometrical ratio, whereas food supply increases in an arithmetic ratio.” – Thomas Robert Malthus. 

Teori diatas merupakan teori terkenal dari Malthus mengenai ledakan penduduk, dan mengarah pada suatu keadaan dimana penduduk semakin hari semakin banyak, tidak dapat diimbangi dengan ketersediaan pangan yang ada. Akibat dari kondisi seperti ini tentu saja akan berujung pada kelaparan dan kematian. Malthus memang terlihat pesimis, meskipun bukan berarti pendapat orang pesimis itu salah. Faktanya, kondisi saat ini mulai memperlihatkan wujud kengerian Malthus di masa lalu itu.

Berdasarkan data dari Sekretariat Kabinet Republik Indonesia: Indonesia masih kekurangan 4,4 juta ton beras, 2,11 juta ton gula, 1,47 juta ton garam, 1,45 juta ton tepung, 72.290 ton daging sapi, dan1,35 juta ton kedelai. Dan untuk menutupi kekurangan itu, pemerintah memutuskan untuk membuka keran impor. Ditengah dunia yang serba instan seperti ini, rasanya tidak heran jika pemerintah pun membutuhkan keputusan yang juga terdengar seperti instan. Impor dan instan sama-sama memiliki dua suku kata.

Terasa lucu dan mengolok-olok, negara agraris impor bahan pangan. Negara maritim impor garam. Puarahnya pol, kata salah satu orang tua di pasar Klender di suatu minggu pagi yang cerah. Pastinya ada sesuatu yang salah disini. Yang disebutkan padahal baru pangan pokok, belum pangan sekunder, buah-buahan, hingga mungkin petasan dan DVD bajakan. Ada baiknya Malthus adalah orang Inggris, karena jika Malthus orang Indonesia, bukan suatu hal aneh jika saking frustasinya ia lebih memilih bunuh diri daripada melihat bangsanya mati perlahan.

Satu-satunya solusi terpadu untuk Indonesia dan masalah pertaniannya yang terpikirkan dalam otak ini hanyalah tali tambang. Bukan, bukan untuk bunuh diri. Anggaplah rakyat di Indonesia adalah serat-serat tumbuhan. Jika serat untuk tali tambang dibersihkan dan sisir dahulu agar menjadi serat yang halus dan baik, tentunya karena rakyat Indonesia berbentuk manusia dan bukan serat tumbuhan, maka rakyat Indonesia di’sisir’ melalui pelatihan dan pendidikan agar kompeten secara keilmuan, yang pada akhirnya diharapkan tercipta knowledge-based-society; masyarakat yang memiliki dasar ilmu pengetahuan dan kemampuan yang baik. Termasuk disini masyarakat pertanian. Lalu, serat antar serat dipintal menjadi untaian. Satu ‘untaian’ yang ada dalam satu tambang-ketahanan-pangan untuk Indonesia merepresentasikan suatu kelompok dan golongan tertentu mulai dari petani, akademisi dan mahasiswa, pengusaha, pemerintah, LSM, investor, dan lain-lain. Setiap ‘untaian’ ini harus melaksanakan peranannya masing-masing.

Contoh, anggap pemerintah melaksanakan peran konkretnya dalam bentuk: menaikkan APBN untuk pertanian, mengusahakan untuk pendistribusian bibit dan pupuk secara luas agar mudah diperoleh, mendorong intensifikasi dan ekstensifikasi, menggencarkan ekspor produk pertanian lainnya, promosi diversifikasi pangan besar-besaran, melakukan impor hanya untuk cadangan dan menstabilkan harga, dan lainnya. Pun begitu dengan yang lainnya. Akademisi dan mahasiswa berperan dalam penggencaran riset, penelitian, hingga inovasi teknologi. Investor, pengusaha, dan industri membuat pabrik-pabrik, menyerap lebih banyak tenaga kerja, pelatihan tenaga kerja, dan penanaman modal. Hingga akhirnya semua kembali di’pintal’ menjadi satu kesatuan ‘tali tambang’. Seluruh ‘serat’ dan ‘untaian’nya sinergis, untuk mencapai satu tujuan yang sama dalam melihat permasalahan yang ada meskipun dari perspektif yang berbeda-beda.

Karena bukankah dari awal Thomas Malthus tidak pernah berkata impor sebagai solusi untuk menyediakan pangan? Bahkan pada masanya, Malthus juga menentang impor gandum di Inggris. Mungkin diam-diam ia tahu betapa bahaya efek bumerang impor jika tidak dicermati dengan baik dan bijak. Mungkin juga Thomas Malthus mengerti bahwa menjadi mandiri adalah solusi terbaik, kendati menjadi mandiri bukanlah solusi tercepat. Karena selayaknya sebuah kebiasaan, bisa diubah pelan-pelan asal ada kemauan.

Seperti yang Presiden Soekarno pernah katakan: berdikari. Berdiri Diatas Kaki Sendiri.

-Khonsa Shofwatun Najah, 150610110103.

Sunday, May 5, 2013

Alhamdulillah.

Sekarang ini gue sedang dlm state sangat enjoy dengan hidup gue skrg. Punya banyak temen baru, sering kongkow sm temen2 lama, banyak kegiatan jd gak pongo, masalah yg ada gak sebesar yg sebelumnya, ya pokonya lagi enjoy bangaaaats se-selow2nya umat. Atmosfer kehidupan gue lg bahagia-bahagianya ;) Alhamdulillah. Semoga abis ngepost ini hidup jd makin nikmat. Amin.

-K.

Thursday, April 4, 2013

Alhamdulillah acara Tukulnya sukses.

Sorry2 harusnya acara Motivamor Pertamax. Hehehe. Abisan Tukul sm Mbak Cintya Sari lucu banget sih ampe ngakak terus. Gak nyesel ngerjain kuis buru2 amat cuma stgh jam krn mau ada briefing. Btw gue anak acara. Sebetulnya agak gabut krn semua dibawah dr pertamina. Trus gue juga disuruh jd penerima tamu gitudeh. Apasih namanya usher apa apaan gak faham hahaha. Tp gue seneeeeng banget. Acara lucu. Kocak tp ya memotivasi sih betul. Harus sering2 ada nih acaranya.

Tunggu motivamor edisi dua dan tiga di UGM dan Unair ya. Liat timelinenya juga aja di @pertamaxind

Alhamdulillah. Sukses terus ya pertamax (pdhl motor gue aja msh diisi premium)

"Cintai makhluk yang di darat pasti yg dilangit juga mencintai kamu." -Tukul. Quote terpaling gue inget.

-K.

Tuesday, April 2, 2013

Alhamdulillah jadi anak himpro lagi.

Bisa gak nih disebut pencapaian? Hehe. Abisnya taun kmrn pdhl juga ikutan eksternal yah meskipun agak gabuts. Sengaja posting, biar gak kelamaan ngepost dr tekad di postingan sblm ini (dan gue terkesan lagi serius) hehehehe. Jujur, gaktau knp jd biasa aja gini masuk himpro. Sama perasaannya kaya masuk BEM. Gak ngoyo mau bgt keterima gitu emang sih dr awal. Cuma msk ya alhamdulillah engga juga gakpapa. Pdhl di tahun pertama semangat bgt mau himpro. Kenapa ya

Ohya things getting better (at least from my side) from the moment I posted the prev blog post. Alhamdulillah juga deh. Meskipun gak tau alhamdulillah buat semuanya juga apa engga. Btw. Kemaren kepoin orang2 hebat. Mantapsbangaaats. Tp gak tahu nih.... Gue gak kepikiran mau jd kayak mrk. Inspiring sih..... Tapi. Ya gitudeh. Gue cm mau jd diri gue. Ya meskipun diri gue yg skrg ini bejat. Kalopun suatu saat gue mulai ke arah seperti mrk ya itupun krn emg gue mau. Bukan berarti gue bangga gue bobrok. Tapi gak akan mgkn setiap orang menempuh jalan yang persis sama. Tujuan bisa sama, cara boleh beda. Maka tolong biarkan gue berjalan dgn cara gue sendiri.

Tunggu alhamdulillah-alhamdulillah berikutnya ya.

"P=f/a. Makin sempit hati, tekanan hidup yang kerasa bakal lbh besar. Dan vice versa."

-K.

Saturday, March 23, 2013

Everything.

Old case, same shit, same person.

Emotions set aside!!! I need mind-distraction from complicated thing which I couldn't choose the best bad solution among any bad solutions.

So this is what I'm exactly doing: menyalurkan energi ke hal-hal yang lebih positif. Semisal, mengejar cita-cita. Hah cerita lama memang gue ngmg sok bener kaya gini.

I'd do everything to get anything I want. I mean 'everything' in a good way. Bismillah, target 2013 yang ini hrs tercapai.

Next blog post title: Alhamdulillah _______________!

Selamat menempuh cita-cita, Sa.

"Don't be everyone's cup of tea. Be somebody's shot of whiskey."

-K.